Banyak orang mengira pengelolaan sampah harus dimulai dengan gudang besar, armada operasional, dan fasilitas lengkap.
Kenyataannya, kami memulainya dari sebuah garasi rumah.
Tidak ada gudang. Tidak ada kendaraan operasional.
Bahkan untuk mengangkut sampah, kami pernah meminjam kendaraan tetangga atau menggunakan mobil pribadi pengurus.
Namun dari tempat sederhana itulah kami mulai mengajak warga memilah sampah dari rumah.
Pelan-pelan jumlah warga yang terlibat bertambah.
Pelan-pelan volume sampah yang terkumpul meningkat.
Dan pelan-pelan dampaknya mulai terlihat.
Sepanjang tahun 2025, lebih dari 10 ton sampah berhasil dialihkan melalui kegiatan BSU Mandiri.
Pada tahun 2026, hingga saat ini, lebih dari 2 ton sampah kembali berhasil dikelola bersama masyarakat.
Bagi kami, angka tersebut bukan sekadar data.
Di baliknya ada perubahan kebiasaan, peningkatan kesadaran warga, dan bukti bahwa solusi lingkungan tidak selalu harus dimulai dari fasilitas yang besar.
Dari pengalaman kami, tantangan terbesar bukanlah keterbatasan sarana.
Tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi dan mengajak masyarakat untuk terus terlibat.
Hari ini garasi itu masih ada.
Masih menjadi tempat kami bekerja, belajar, dan membangun gerakan kecil yang dampaknya terus bertambah.
Jika dari sebuah garasi sederhana ribuan kilogram sampah dapat dialihkan, kami percaya lebih banyak hal baik bisa terjadi ketika komunitas, perusahaan, yayasan, dan program CSR ikut mengambil bagian dalam gerakan seperti ini.
#BankSampah #CSR #ESG #Sustainability #PengelolaanSampah #Lingkungan #PemberdayaanMasyarakat #CircularEconomy #BSUMandiri #DariGarasiUntukLingkungan
