Pengelolaan sampah menjadi salah satu tantangan terbesar di kota-kota besar Indonesia. Di Jakarta sendiri, volume sampah mencapai ribuan ton setiap hari. Karena itu, berbagai upaya terus dilakukan untuk mengurangi sampah dari sumbernya, termasuk melalui pengelolaan sampah organik di lingkungan warga.
Belum lama ini, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mendorong penggunaan Biopori Jumbo sebagai salah satu solusi pengelolaan sampah organik. Program tersebut bahkan dijadikan percontohan setelah berhasil diterapkan oleh warga di RW 014 Pondok Kelapa, Jakarta Timur.
Apa Itu Biopori Jumbo?
Biopori Jumbo merupakan pengembangan dari lubang resapan biopori yang selama ini dikenal masyarakat. Bedanya, ukuran lubang lebih besar sehingga mampu menampung lebih banyak sampah organik rumah tangga.
Sampah seperti sisa makanan, kulit buah, sayuran, dan ampas kopi dimasukkan ke dalam biopori untuk diurai secara alami. Hasil akhirnya dapat menjadi kompos yang bermanfaat bagi lingkungan.
Dengan cara ini, sebagian sampah organik tidak perlu lagi diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA).
Mengapa Sampah Organik Perlu Diolah dari Sumbernya?
Sebagian besar sampah rumah tangga sebenarnya berasal dari bahan organik.
Jika sampah organik dapat selesai di lingkungan tempat tinggal, maka jumlah sampah yang harus diangkut ke TPA akan berkurang secara signifikan.
Manfaat lainnya antara lain:
- Mengurangi volume sampah yang dibuang.
- Mengurangi biaya pengangkutan sampah.
- Mengurangi bau dari sampah dapur.
- Menghasilkan kompos alami.
- Membantu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pemilahan sampah.
Inilah alasan mengapa konsep pengolahan sampah dari sumber menjadi bagian penting dalam upaya menuju zero waste.
Tantangan di Permukiman Padat Penduduk
Namun muncul satu pertanyaan yang cukup sering disampaikan masyarakat.
Bagaimana jika rumah tidak memiliki halaman?
Bagaimana jika lingkungan berupa gang sempit dengan rumah-rumah yang berdempetan?
Kondisi seperti ini banyak ditemukan di kawasan perkotaan. Tidak semua warga memiliki lahan yang cukup untuk membuat Biopori Jumbo berukuran besar.
Padahal kebutuhan untuk mengelola sampah organik tetap ada.
Alternatif Biopori untuk Gang Sempit
Menurut kami, keterbatasan lahan bukan berarti pengelolaan sampah organik tidak bisa dilakukan.
Salah satu alternatif yang dapat dicoba adalah menggunakan buis beton berukuran kecil yang ditanam di tanah.
Bagian atasnya dapat ditutup menggunakan penutup beton atau cor semen yang kuat sehingga tetap aman digunakan sebagai jalur pejalan kaki maupun kendaraan roda dua.
Dengan pendekatan ini, ruang yang sangat terbatas tetap dapat dimanfaatkan untuk mengolah sampah organik dari rumah tangga.
Tentu penerapannya perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing lingkungan dan mempertimbangkan aspek keamanan serta kenyamanan warga.
Menuju Lingkungan yang Lebih Mandiri
Dari pengalaman kami di BSU Mandiri, pengelolaan sampah yang paling efektif adalah yang dimulai dari lingkungan itu sendiri.
Semakin banyak sampah yang selesai di tingkat rumah tangga dan komunitas, semakin kecil beban yang harus ditanggung oleh sistem pengangkutan dan tempat pengolahan akhir.
Biopori Jumbo merupakan salah satu solusi yang menarik untuk dicoba. Namun bagi kawasan dengan lahan terbatas, inovasi dan penyesuaian tetap diperlukan agar seluruh warga dapat ikut berpartisipasi.
Karena pada akhirnya, persoalan sampah bukan hanya tentang teknologi atau fasilitas. Persoalan sampah adalah tentang kebiasaan, keterlibatan masyarakat, dan kemauan untuk mulai mengelolanya dari sumber.
