Perumahan Taman Asri RW 14, Subangjaya, Cikole, Kota Sukabumi

Cerita dan Inspirasi Hijau

Dari Komunitas untuk Bumi

Cerita dan Inspirasi Hijau

Dari Komunitas untuk Bumi

bsu-mandiri-blog1

Tanpa Gudang, Tanpa Armada, Tapi 11 Ton Sampah Berhasil Dikelola, Apa Artinya bagi Kota?

Pengelolaan sampah sering dianggap hanya dapat berjalan dengan fasilitas besar dan anggaran yang memadai. Padahal, pengalaman bank sampah berbasis komunitas menunjukkan bahwa solusi pengelolaan sampah kota tidak selalu harus dimulai dari infrastruktur mahal.

Sepanjang tahun 2025, BSU Mandiri, sebuah bank sampah berbasis komunitas, berhasil mengelola lebih dari 11.000 kilogram sampah. Pencapaian ini memberikan gambaran nyata tentang dampak bank sampah dalam upaya pengurangan sampah ke TPA, khususnya di wilayah perkotaan.

Perjalanan pengelolaan sampah di BSU Mandiri dimulai dari skala yang sangat sederhana. Pada awal tahun, volume sampah terkelola hanya 56 kg. Namun melalui sistem bank sampah yang konsisten dan partisipasi warga, angka ini terus meningkat.

Dalam beberapa bulan, volume pengelolaan mencapai ±1,6 ton per bulan, lalu tetap terjaga hingga akhir tahun. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa peran masyarakat dalam pengelolaan sampah sangat menentukan keberhasilan sistem.

Bank sampah tidak hanya berfungsi sebagai tempat menabung sampah, tetapi juga sebagai sarana perubahan perilaku. Ketika warga terlibat langsung, pengelolaan sampah berkelanjutan menjadi lebih mungkin diterapkan.

Sepanjang 2025, BSU Mandiri menjalankan aktivitasnya dengan keterbatasan nyata:

  • Tidak memiliki gudang permanen
  • Tidak memiliki kendaraan operasional khusus
  • Sumber daya manusia dan pendanaan terbatas

Kondisi ini memperkuat satu pelajaran penting: pengelolaan sampah tanpa fasilitas besar tetap dapat berjalan, selama sistemnya dipercaya dan partisipatif. Inilah keunggulan model pengelolaan sampah komunitas dibandingkan pendekatan yang sepenuhnya bergantung pada infrastruktur.

Mengelola lebih dari 11 ton sampah di tingkat komunitas memberikan manfaat bank sampah bagi kota, antara lain:

  1. Pengurangan residu sampah yang berakhir di TPA
  2. Peningkatan kesadaran dan kedisiplinan warga dalam memilah sampah
  3. Tumbuhnya praktik ekonomi sirkular di tingkat lokal
  4. Tersedianya data dan pola yang dapat menjadi contoh bank sampah berbasis komunitas

Jika model ini direplikasi, bank sampah dapat menjadi solusi pengelolaan sampah perkotaan yang efektif dan terukur.

Sering kali bank sampah diposisikan sebagai aktivitas tambahan. Padahal, praktik di lapangan menunjukkan bahwa peran bank sampah dalam pengelolaan sampah kota sangat strategis, terutama dalam mengurangi beban sistem formal.

Ketika pemerintah daerah menghadapi keterbatasan kapasitas, bank sampah berbasis komunitas dapat menjadi mitra yang relevan. Oleh karena itu, dukungan pemerintah untuk bank sampah dan kolaborasi pengelolaan sampah dengan sektor swasta menjadi kunci untuk memperluas dampak.

Pengalaman BSU Mandiri membuktikan bahwa pengelolaan sampah berbasis komunitas bukan sekadar konsep. Sistem ini sudah berjalan dan memberi dampak nyata bagi kota.

Jika lebih dari 11 ton sampah dapat dikelola tanpa fasilitas ideal, maka dengan program CSR lingkungan, dukungan kebijakan, dan kemitraan lintas sektor, bank sampah berpotensi menjadi pilar penting dalam pengelolaan sampah berkelanjutan.

Solusi sudah ada.
Kini saatnya memperkuat, mereplikasi, dan menjadikannya bagian dari strategi kota.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *