Perumahan Taman Asri RW 14, Subangjaya, Cikole, Kota Sukabumi

Cerita dan Inspirasi Hijau

Dari Komunitas untuk Bumi

Cerita dan Inspirasi Hijau

Dari Komunitas untuk Bumi

bsu-mandiri-blog1

Model Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat melalui Bank Sampah Unit Mandiri di Kota Sukabumi

Permasalahan sampah perkotaan masih menjadi tantangan serius di berbagai daerah, termasuk Kota Sukabumi. Peningkatan jumlah penduduk, pola konsumsi rumah tangga, serta keterbatasan infrastruktur pengelolaan sampah menyebabkan volume sampah terus bertambah setiap tahun. Di sisi lain, keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah masih relatif rendah, sehingga beban pengolahan lebih banyak ditanggung oleh pemerintah daerah.

Bank Sampah Unit Mandiri (BSU Mandiri) hadir sebagai inisiatif pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang mendorong perubahan perilaku warga dari “membuang sampah” menjadi “mengelola dan menabung sampah”. Model ini menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama, bukan sekadar objek kebijakan, sehingga pengelolaan sampah dapat berjalan secara berkelanjutan, partisipatif, dan bernilai ekonomi.

Konsep Bank Sampah Berbasis Masyarakat

Bank sampah merupakan sistem pengelolaan sampah dengan prinsip menyerupai perbankan, di mana sampah anorganik yang telah dipilah memiliki nilai ekonomi dan dicatat sebagai tabungan. Melalui pendekatan ini, sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, melainkan sebagai sumber daya.

BSU Mandiri mengembangkan konsep bank sampah berbasis masyarakat dengan beberapa prinsip utama:

  1. Partisipasi aktif warga sebagai nasabah dan pengelola.
  2. Pemilahan sampah dari sumber, khususnya rumah tangga.
  3. Transparansi pencatatan, baik secara manual maupun melalui aplikasi digital.
  4. Penguatan nilai ekonomi dan sosial, bukan hanya lingkungan.

Model Pengelolaan Sampah di BSU Mandiri Kota Sukabumi

1. Pengorganisasian Masyarakat

BSU Mandiri dibangun di tingkat lingkungan dengan melibatkan RT, RW, dan relawan lokal. Pendekatan ini memudahkan sosialisasi, meningkatkan kepercayaan warga, serta memperkuat rasa kepemilikan bersama terhadap program pengelolaan sampah.

2. Sistem Tabungan Sampah

Warga yang menjadi nasabah menyetorkan sampah anorganik yang telah dipilah, seperti plastik, kertas, dan logam. Sampah ditimbang, dinilai sesuai harga pasar, lalu dicatat sebagai saldo tabungan atas nama nasabah. Sistem ini mendorong konsistensi warga dalam memilah sampah karena terdapat manfaat ekonomi yang nyata.

3. Pencatatan dan Digitalisasi

BSU Mandiri memanfaatkan sistem pencatatan berbasis aplikasi untuk meningkatkan akurasi data, transparansi, dan kemudahan akses informasi bagi nasabah. Digitalisasi ini juga menjadi fondasi penting untuk pengembangan laporan kinerja, kebutuhan audit, serta pengajuan kerja sama dengan pihak eksternal.

4. Pengelolaan dan Penjualan Sampah

Sampah anorganik yang terkumpul disalurkan ke pengepul atau mitra daur ulang. Proses ini dilakukan secara bertahap sesuai kapasitas penyimpanan dan operasional. Meskipun memiliki keterbatasan sarana seperti gudang dan kendaraan operasional, BSU Mandiri tetap menjalankan kegiatan secara konsisten melalui swadaya dan kolaborasi lokal.

5. Edukasi dan Perubahan Perilaku

Selain pengelolaan teknis, BSU Mandiri aktif melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai pemilahan sampah, pengurangan sampah dari sumber, serta pentingnya peran warga dalam menjaga lingkungan. Edukasi ini dilakukan melalui kegiatan lapangan dan media sosial.

Dampak Sosial, Lingkungan, dan Ekonomi

Dampak Lingkungan

Model bank sampah BSU Mandiri berkontribusi langsung terhadap pengurangan volume sampah yang dibuang ke TPS dan TPA. Pemilahan sejak dari rumah juga meningkatkan kualitas sampah yang dapat didaur ulang.

Dampak Sosial

Program ini memperkuat solidaritas warga, meningkatkan kepedulian lingkungan, serta membuka ruang partisipasi bagi berbagai kelompok usia, termasuk generasi muda.

Dampak Ekonomi

Tabungan sampah memberikan tambahan nilai ekonomi bagi rumah tangga. Selain itu, bank sampah membuka peluang pengembangan unit usaha turunan di bidang pengelolaan dan pengolahan sampah.

Tantangan dan Peluang Pengembangan

Dalam pelaksanaannya, BSU Mandiri menghadapi tantangan seperti keterbatasan lahan, gudang, dan sarana operasional. Namun, tantangan tersebut sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan pemerintah daerah, perusahaan melalui program CSR, lembaga donor, serta mitra internasional.

Dengan dukungan yang tepat, model pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui BSU Mandiri berpotensi direplikasi di kelurahan dan kecamatan lain di Kota Sukabumi.

Bank Sampah Unit Mandiri Kota Sukabumi membuktikan bahwa pengelolaan sampah tidak harus selalu bergantung pada sistem besar dan mahal. Melalui pendekatan berbasis masyarakat, konsistensi, dan kepercayaan warga, bank sampah dapat menjadi solusi nyata dalam mengatasi permasalahan sampah sekaligus meningkatkan nilai sosial dan ekonomi masyarakat.

Model ini layak dikembangkan dan didukung sebagai bagian dari strategi pengelolaan sampah berkelanjutan di tingkat kota maupun daerah lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *