Dalam berbagai kebijakan pengelolaan sampah daerah, pembangunan TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) kerap menjadi fokus utama. TPS3R memang berperan penting sebagai fasilitas pengolahan. Namun, pengelolaan sampah yang berkelanjutan tidak akan efektif jika hanya bertumpu pada TPS3R, tanpa memperkuat sistem hulu yang sudah berjalan, seperti bank sampah.
Di Kota Sukabumi, keberadaan bank sampah yang aktif dan berbasis data telah membuktikan bahwa pengelolaan sampah dari sumbernya bukan sekadar konsep, melainkan praktik nyata yang terukur.
Bank Sampah Sukabumi: Bukti Nyata, Bukan Sekadar Program
Salah satu contoh konkret adalah Bank Sampah Unit (BSU) Mandiri, yang hingga Desember 2025 menunjukkan kinerja pengelolaan sampah yang konsisten dan terdokumentasi.
Capaian BSU Mandiri per Desember 2025:
- Volume sampah terkelola: 11.971,04 kilogram
- Jumlah nasabah : 119 Kepala Keluarga (KK)
- Total saldo tabungan nasabah: Rp 12.575.723
Data tersebut mencerminkan tiga hal penting:
- Partisipasi masyarakat yang nyata, bukan partisipasi semu
- Dampak lingkungan yang terukur, melalui pengurangan sampah ke TPA
- Manfaat ekonomi langsung bagi warga, melalui sistem tabungan sampah
Dengan kata lain, bank sampah di Sukabumi telah menjalankan fungsi lingkungan, sosial, dan ekonomi secara bersamaan.
Mengapa Fokus Tunggal pada TPS3R Tidak Cukup
TPS3R beroperasi pada fase pengolahan, sementara bank sampah bekerja di fase pencegahan dan pemilahan di sumber. Tanpa pemilahan dari rumah tangga, TPS3R justru menghadapi:
- Tingginya residu
- Beban sortir manual
- Biaya operasional yang meningkat
Bank sampah di Sukabumi seperti BSU Mandiri telah:
- Mengurangi volume sampah sebelum masuk TPS3R
- Meningkatkan kualitas material daur ulang
- Menciptakan disiplin pemilahan di tingkat warga
Hal ini membuktikan bahwa TPS3R dan bank sampah bukan pilihan salah satu, melainkan sistem yang harus berjalan beriringan.
Tantangan Nyata Bank Sampah Aktif di Sukabumi
Meski telah menunjukkan kinerja berbasis data, bank sampah masih menghadapi keterbatasan struktural, antara lain:
1. Keterbatasan Gudang
Volume hampir 12 ton sampah terkelola tidak mungkin ditangani secara optimal tanpa:
- Gudang penyimpanan sementara
- Area sortir yang layak
- Sistem penyimpanan yang aman dan higienis
2. Keterbatasan Armada Angkut
Tanpa armada khusus:
- Pengangkutan bergantung pada kendaraan pribadi
- Jadwal pengambilan tidak optimal
- Skala layanan sulit diperluas meskipun nasabah bertambah
3. Keterbatasan Sarana dan Prasarana
Seperti:
- Timbangan digital standar
- Rak dan karung sortir
- Alat press, mesin cacah dan APD petugas
Padahal, kinerja bank sampah sudah terbukti, yang dibutuhkan adalah penguatan fasilitas.
Bank Sampah sebagai Mitra Strategis Pemerintah Daerah
Dengan data yang jelas dan dampak yang terukur, bank sampah seharusnya:
- Masuk dalam perencanaan resmi pengelolaan sampah daerah
- Mendapat skema dukungan berbasis kinerja, bukan bantuan simbolik
- Diintegrasikan dengan target pengurangan sampah dan emisi
BSU Mandiri dapat dijadikan model praktik baik (best practice) pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kota Sukabumi.
Rekomendasi Kebijakan Berbasis Data
Berdasarkan kinerja nyata bank sampah, beberapa langkah strategis yang relevan bagi pemerintah daerah antara lain:
- Pengadaan gudang dan armada untuk bank sampah aktif
- Integrasi data bank sampah dalam sistem perencanaan lingkungan
- Penetapan bank sampah sebagai mitra resmi pengurangan sampah
Pembangunan TPS3R merupakan langkah penting, namun tidak akan optimal tanpa penguatan bank sampah yang telah bekerja di hulu. Data BSU Mandiri per Desember 2025 membuktikan bahwa bank sampah di Sukabumi bukan sekadar wacana atau proyek sesaat, melainkan sistem nyata yang berjalan, terukur, dan memberi dampak langsung.
Kini, tantangannya bukan lagi pembuktian, tetapi keberpihakan kebijakan agar bank sampah mendapat dukungan infrastruktur yang sepadan dengan kontribusinya.
